RSS

Internet Musuh atau Sahabat Buku

Buku adalah jendela dunia. Ungkapan ini kerap kali kita dengar sewaktu belajar di bangku sekolah dasar. Kalimat tersebut menggambarkan betapa luasnya ilmu yang kita dapatkan dari membaca buku sampai dianggap kita dapat melihat isi seluruh dunia dengan membaca buku saja tanpa perlu beranjak selangkahpun dari tempat kita membaca. Di sisi lain muncul semacam silogisme bahwa gemar membaca lekas pandai, dan generalisasi bahwa kutu buku pasti pintar.
Di zaman modern ini, ungkapan di atas mungkin lebih cocok jika diganti “Televisi jendela dunia” atau “Google gudang ilmu”.

Menurut survey Biro Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2006 masyarakat lebih menjadikan kegiatan menonton televisi sebagai sumber informasi (85,9%) dan/atau mendengarkan radio (40.3%) daripada membaca koran (23,5%). Data di atas cukup menunjukkan bahwa tingkat kepopuleran sumber informasi tertulis konvensional, seperti koran, berada di bawah sumber informasi elektronik, seperti televisi dan radio.

Kemungkinan lain penyebab turunnya minat baca adalah pergeseran kebiasaan membaca buku dengan kegiatan membaca di internet. Menurut Internet World Stats, jumlah pengguna internet di Indonesia tercatat sekitar 25.000.000 pengguna atau 10,5% dari penduduk Indonesia (data Internet World Stats, Mei 2008). Pergeseran cara membaca ini sangat mungkin terjadi, bahkan telah menjadi topik yang ramai dibahas di Amerika Serikat.
Tahun lalu, seorang penulis Amerika bernama Nicholas Carr menulis sebuah artikel yang berjudul “Is Google Making Us Stupid?” (Apakah Google Membuat Kita Bodoh?) pada sebuah majalah terkemuka di Amerika. Dengan judul yang sangat provokatif, Carr berhasil membuat banyak orang yang membaca judulnya kaget. Banyak orang yang berpikir bahwa internet dan Google adalah sebuah cara pintar dan terbaik untuk mendapatkan informasi.
Pada artikel itu Carr menuliskan kekhawatirannya terhadap efek penggunaan internet yang intensif terhadap penggunanya. Carr telah mengamati bahwa pengguna internet, termasuk dia dan teman-temannya, mulai mengalami gangguan konsentrasi membaca, kemunduran kemampuan membaca teks panjang, kemudian enggan membaca buku, bahkan mengalami perubahan proses berpikir. Sayangnya, perubahan tersebut bukan perubahan yang membuatnya cerdas, tetapi sebaliknya.

Dalam artikel tersebut Carr mencantumkan pula pendapat Maryanne Wolf, seorang ahli psikologi dari Universitas Tufts. Wolf mengatakan bahwa gaya internet yang efisien dan cepat dapat melemahkan kemampuan kita untuk menghayati bacaan. Selain itu, internet diduga mampu melemahkan kemampuan kita untuk menginterpretasikan teks, serta mambuat koneksi mental terhadap apa yang kita baca terganggu, tidak seperti dalam keadaan membaca secara menghayati.

Topik ini terus menghangat bahkan menimbulkan debat seru di antara para pakar membaca, pembuat kebijakan pendidikan, organisasi seperti persatuan guru bahasa Inggris dan organisasi membaca di Amerika Serikat. Kondisi ini terangkum dalam artikel berjudul “Literacy Debate: Online, R U Really Reading?” karya Motoko Rich di surat kabar New York Times. Permasalahannya sama, para pendukung cara membaca konvensional menganggap cara membaca digital memberikan pengaruh buruk terhadap keterampilan membaca. Mereka berpendapat bahwa proses membaca buku, kemudian merenungkan isinya, menarik kesimpulan, dan memprosesnya dengan daya imajinasi lebih memperkaya secara kognitif dibandingkan mendapatkan informasi singkat dan sepotong-sepotong lewat Web.

Meskipun begitu, para pembela Web percaya bahwa pembaca yang ulet di Web dapat mengungguli mereka yang tergantung pada buku. Membaca lima Web site, sebuah artikel editorial dan satu atau dua post di blog, menurut para pakar, dapat menjadi lebih memperkaya pengetahuan dibandingkan dengan membaca satu buku. Untuk membaca sebuah buku dengan 400 halaman membutuhkan waktu yang lama, kata Mr. Spiro dari Michigan State University. Dalam waktu yang hanya sepersepuluhnya, Internet memungkinkan seorang membaca lebih banyak tentang topik tertentu ditinjau dari sudut pandang yang berbeda.

Di luar dari pertikaian dua kubu, ada pula cerita tentang Zachary Sims, seorang remaja yang merupakan pembaca buku namun juga mencintai internet. Zachary memanfaatkan internet sebagai sarana mencari artikel-artikel di bidang yang dia senangi. Dia menganggap informasi di Web lebih seperti suatu percakapan, berbeda dengan buku yang memberikan informasi hanya satu arah saja.
Kasus yang lain tentang seorang remaja bernama Hunter Gaudet yang merasa nyaman dengan cara membaca baru ini. Sebagai penderita disleksia, membaca sebuah buku merupakan sebuah perjuangan bagi Hunter. Menurutnya, ada banyak detil yang tidak betul-betul perlu di dalam buku, sedangkan online hanya memberikan apa yang dia butuhkan, tidak lebih dan tidak kurang. Membaca di Web menjadi lebih nyaman dan mudah, cocok untuk seseorang yang bukan pembaca buku yang lancar, menurut Sally Shaywitz, seorang profesor di Universitas Yale.
Perlahan, kontroversi ini mulai mengalami titik temu. Menghadapi situasi seperti di atas, para praktisi pendidikan di Amerika mengusahakan kompetensi Internet dimasukkan di dalam tes di sekolah. Bahkan orang yang paling mencemaskan kelestarian buku juga setuju bahwa anak-anak membutuhkan pengalaman membaca yang bervariasi.

Pada akhirnya, semua keputusan berada di tangan kita sendiri. Buku dan internet hanyalah satu dari sekian banyak media informasi. Buku bukannya tersingkir, tetapi harus diakui di dunia saat ini buku hanyalah salah satu cara untuk mendapatkan informasi. Kondisi kita memang belum separah di Amerika, namun ada baiknya kita mulai mengimbangi kebiasaan membaca di internet dengan membaca buku secara konvensional. Pertanyaannya sekarang, apakah kita bersedia membagi kenyamanan membaca lewat internet kita dan kembali ke buku?

weleee..emang bener euy, mending baca2 dr inet, kalo bosen bisa cari pic nya, dr buku jenuh, gmn pendapat bro n sis smua ??

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: